Tanda-tanda orang yang
bertakwa itu antara lain:
Beriman
kepada yang gaib, yang tak terindera seperti iman terhadap adanya Allah, para
malaikat, hari kebangkitan, sorga, neraka, dan sebagainya. (Dan ini tampak dari
sikap perbuatan yang sesuai dengan tuntutan iman tersebut); ajeg (rutin)
melaksanakan kewajiban salat; mau menafkahkan sebagian hartanya (berzakat),
bersedekah, dan sebagainya); beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad Saw. dan kitab-kitab Allah lainnya yang diturunkan kepada para
utusan sebelum Nabi Muhammad Saw; yakin terhadap Hari Kemudian; menyantuni anak
yatim dan kaum lemah; bila berjanji selalu menepati; bersyukur bila mendapat
kenikmatan dan bersabar bila mendapat cobaan. Seperti dalam Al-Quran surah (2)
Al-Baqarah: 1-4:
"Alif
lamm miim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi
mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang
mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada
mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan
kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin
akan adanya (kehidupan) akhirat" (QS 2. Al-Baqarah: 1-4)
Al-Quran
surah (2) Al-Baqarah: 177: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian orang yang
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi,
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang yang
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa" (QS 2. Al-Baqarah: 177)
Taqwa
itu artinya menjauhi segala larangan dan melakukan/mena'ati perintah Allah Swt.
"Menjauhi larangan dan mena'ati perintah" lingkupnya yang luas
sekali. Sebab itu, amalan-amalan praktis –-yang karenanya kita disebut
bertaqwa-- tidak terbatas jumlahnya, meliputi bidang ibadah atau keakhiratan
(shalat, puasa, haji, zakat, dll) dan bidang mu'amalah atau pergaulan duniawi
(sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, dll). Dengan ungkapan
lain, orang bertaqwa adalah orang yang bisa membina hubungan baik dengan Allah
(hablun minallaah) dan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas). Baik
dalam urusan agama dan baik dalam urusan dunia. Kedua urusan itu dilakukan
sesuai norma agama dan logika/pengetahuan secara serius/sungguh-sungguh,
pantang menyerah, disiplin, dan tulus.
Kalau
kita rajin dalam bidang ibadah saja sementara kegiatan duniawi kita berantakan,
maka kualitas ketaqwaan kita hanya setengah. Demikian juga bila kita hanya baik
duniawi saja atau setengah-setengah dalam hal ibadah dan setengah-setengah
dalam hal duniawi. Padahal kata Allah: "Dan carilah apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash/28:77)
Tuntutan
taqwa di kedua bidang ini tidak berarti tuntutan untuk mencapai kesempurnaan
(dengan arti punya kemampuan, kemauan, dan tindakan di segala bidang ibadah dan
kegiatan duniawi). Namun nilai taqwa itu sudah cukup memihak pada orang yang
mempunyai kemauan dan tindakan pada bidang sesuai kemampuannya. Dalam hal
ibadah sesuai kemampuan, duniawi sesuai kemampuan. Kalau jadi polisi, jadilah
polisi yang baik dan ibadahnya jangan lupa. Jadi pedagang, pedagang yang baik
dan ibadahnya jangan kacau. Guru yang baik dan rajin beribadah. Demikian
seterusnya. "Jangan lupa ibadah" artinya lakukanlah ibadah sesuai
kemampuan.
Semuanya (kebaikan) diukur dengan kemampuan. Ini
kaitannya dengan prinsip: apa saja kejelekan (kemungkaran) harus kita
tinggalkan, apa saja kebaikan harus kita lakukan sesuai kemampuan. Perlu
ditegaskan di sini, kita juga berkewajiban meningkatkan kualitas ketaqwaan
kita. Bagaimana caranya? Tiada lain dengan meningkatkan kemampuan. Dan
kemampuan akan meningkat seiring dengan tambahnya pengetahuan. Dengan kata lain
kita harus mencari ilmu untuk menambah pengetahuan. Tak boleh berhenti pada apa yang
sudah kita mampui. Kata Allah:
"Katakan
(hai Muhammad), Aku hanyalah menasehatkan satu perkara saja kepada kamu semua,
yaitu hendaknya kamu berdiri menghadap Allah, berdua-dua (bersama orang lain)
atau pun sendirian, kemudian kamu berpikir." (QS. Saba'/34:46)
Dalam
ayat ini Nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan pesan yang terdiri
dari dua hal tapi hakikatnya satu, yaitu beribadah dan berpikir. Dengan kata
lain, beribadah dan berpikir adalah dua kegiatan yang tak boleh dipisahkan. Berpikir di sini mempunyai arti
belajar, mencari ilmu, dan meningkatkan pengetahuan. Itulah makanya keunggulah
itu diberikan pada orang yang beriman dan berilmu. "...Allah mengangkat
mereka yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
ke berbagai derajat." (QS. Al-Mujadalah/58:11)
Bagi
Anda sendiri, sekarang tinggal mengukur kemampuan. Dalam hal ibadah, lakukan
semua kewajiban lebih dulu, baru yang sunat menyusul (di antara tahajud atau
shalat malam). Dan dalam urusan dunia, lakukan apa yang menjadi keahlian Anda.
Kerjakan sesuai urutan prioritas untuk menuju keseimbangan hidup. Atau bisa
diformulasikan: keluarga damai, bisnis lancar, dan sosial tak terabaikan. Atau
: sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat (bagi keluarga dan
lingkungan).
Saya
kira, dari uraian di atas Anda sudah tahu dengan jelas apa dan bagaimana taqwa
itu. Otomatis tahu apa kira-kira akibat atau dampak yang akan terjadi pada
orang yang bertaqwa. Balasan orang yang bertaqwa tiada lain adalah kebaikan di
dunia dan akherat. Kedamaian di dunia dan di akhirat (dalam surga). "Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
(QS. An-Nazi'at/79:40-41)
"Untuk
orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka
dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. Ali 'Imran/3:15)
Wallahu a'lam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar