C.
Mengurai Konflik Israel-Palestina
Sebagaimana
telah disinggung sebelumnya, konflik Israel-Palestina seringkali dipahami
sebagai konflik Yahudi-Islam dan hal ini berhasil mensugesti hampir seluruh
dunia Islam untuk membeci Yahudi dengan segala macam “derivasinya”. Sikap
anti-pati terhadap Yahudi di kalangan mayoritas Islam bahkan telah ditanamkan
demikian mengakar mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikann
Islam. Yahudi kerap digambarkan sebagai makhluk
berwatak jelek, berwajah bengis dan berhati keji, sehingga tidak heran jika
kemudian istilah “Yahudi” dijadikan sebagai bahasa cemooh untuk menyebutkan
orang yang “bersifat jelek”.
Segala
kemungkinan bisa saja terjadi ketika kebencian telah dijadikan sebagai landasan
untuk berpikir dan bertindak. Dalam konflik Israel-Palestina misalnya, seruan
agar umat Islam bersatu untuk melawan Zionis-Yahudi bukan sesuatu yang aneh
disuarakan meski dengan alasan yang masih sulit ditebak: apakah merasa senasib
dengan warga Islam Palestina, atau justru dipicu oleh kebencian terhadap Yahudi
yang telah jauh ditanamkan. Sebaliknya, umat Islam dunia bahkan sulit untuk
memberikan dukungan kepada pihak mana ketika terjadi perang Saudara Sunni-Syiah
di wilayah Timur tengah, tetap saja sebagai perang melibatkan korban jiwa yang
tidak dapat ditolerir secara kemanusiaan.
Hampir mustahil
melacak kronologis sejak kapan umat Islam dididik untuk membenci Yahudi, namun
fakta yang ada justru menunjukkan hubungan keduanya cukup baik sepanjang
sejarah umat Islam awal hingga periode pertengahan. Dalam literatur Islam orang
Yahudi diabadikan sejarah sebagai orang yang pernah menjadi sekretaris nabi
khususnya untuk keperluan korespondensi luar negeri, bahkan nabi juga
menunjukkan toleransinya kepada Yahudi dengan berpuasa pada saat mereka
berpuasa. Pada periode Islam di Spanyol, umat
Islam, Yahudi, dan Kristen bersama-sama membangun dan menghasilkan sebuah
peradaban yang berpengaruh pada Renaisance Eropa.
Memang
kerukunan yang terjalin antara umat Islam dan Yahudi bukan berarti tanpa
konflik. Ketika pengaruh Muhammad semakin kuat dan daya imbau agama yang
diajarkannya semakin terasa di kalangan Yahudi, para pemuka agama Yahudi mulai
mengabaikan perjanjian damai yang pernah dibuat dengan umat Islam. Pengabaian
terbuka atas perjanjian itu ditandai dengan masuk Islamnya Abdullah bin Salam,
seorang rabi terpandang Yahudi yang sempat membujuk keluarganya untuk masuk ke
agama Islam. Kondisi ini membuat Yahudi merasa terancam dan mulai melancarkan
serangan teologis terhadap Muhammad dengan sejumlah pertanyaan dan perdebatan
mengenai pokok-pokok dasar agama Islam. Kebijakan resmi untuk memerangi Yahudi
digariskan Muhammad sejak pristiwa pelecehan seorang wanita muslim oleh
sekelompok Yahudi bani Qainuqa. Sejak saat itu, satu persatu kelompok Yahudi
diusir dari Madinah karena terbukti mendukung pihak Makkah. Kondisi ini –
sebagaimana ditulis Hamid Basyaib – jelas menunjukkan pertikaian yang
disebabkan oleh masalah politik.
Hingga terjadi
konflik Israel-Palestina yang dalam banyak hal dipandang sebagai konflik
Yahudi-Islam, analisis tentang masalah politik sebagai pemicu konflik juga
banyak digulirkan berbagai pihak. Konflik ini misalnya, merupakan konflik yang
dipicu oleh klaim hak atas tanah Palestina dari kedua pihak yang bertikai.
Seperti ditulis Trias Kuncahyono, Israel selalu mengatakan posisi legal
internasional mereka atas Jerusalem berasal dari mandat Palestina (Palestine Mandate, 24
Juli 1922). Di pihak lain, Palestina juga menyatakan Jerusalem (al Quds) akan
menjadi ibu kota negara Palestina Merdeka di masa mendatang atas dasar klaim
pada agama, sejarah dan jumlah penduduk di kota itu. Pertikaian kedua belah pihak pada
akhirnya sulit dihindari, sebab klaim hak atas tanah Palestina bukan sekedar
menyangkut latar belakang sejarah dan wilyah politik, melainkan masalah simbol
spiritualitas besar bagi kedua pihak.
Trias
Kuncahyono mengutip Dershowitz menuliskan, pembagian Jerusalem –
menjadi bagian Israel dan bagian Palestina – sulit untuk dilaksanakan karena
peta demografi tidak mudah diubah menjadi peta politik. Meskipun peta tersebut
telah terbagi sebagai wilayah yang dihuni orang-orang Israel dan wilyah lain
yang dihuni orang-orang Palestina, Jerusalem akan semakin sulit dibagi karena
ia merupakan simbol tiga agama besar yang letaknya saling berdekatan. Jerusalem
adalah pusat Yudaisme, tempat disalibnya Yesus dan kebangkitan serta
kenaikannya ke surga, dan tempat yang diyakini umat Islam sebagai bagian dari
perjalanan spiritualitas Muhammad ketika mengalami perjalanan malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha dan naik
ke Sidratul Munthaha.
Yahudi
menganggap Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan” dan mayoritas mereka
meyakini bahwa Yerusalem harus kembali menjadi ibu kota Israel sebagai
intervensi Tuhan untuk mengembalikan hak bangsa Yahudi yang selama ini
tertindas. Pandangan ini mengakibatkan pergeseran
paradigma politik yang mewarnai konflik Israel-Palestina ke paradigma teologis.
Apalagi, mitos yang kerap dikembangkan untuk memberikan identitas pada Yahudi,
adalah: “bangsa tanpa tanah untuk tanah tanpa bangsa”. Streotipe tentang Yahudi sebagai “bangsa
yang terusir dari tanahnya” ini juga telah berhasil membentuk konsep teologis
orang-orang Yahudi, bahwa – seperti ditulis Karen Armstong – Tuhan memulai
penciptaan dengan tindakan yang kejam karena keinginan untuk membuat dirinya
dikenal oleh para makhluknya. Keterkucilan dan pengasingan Yahudi
bahkan pernah di alami Adam sebelumnya, karena dosa yang dilakukan Adam membuat
ia terusir dari surga. Demikian Yahudi, mengembara ke seluruh penjuru dunia,
menjadi terkucil selamanya, dan merindukan penyatuan kembali dengan Tuhan.
Ada mitos lain
yang menarik menyangkut konsep teologi Yahudi, yaitu penantian terhadap
datangnya sorang Messiah selama berabad-abad yang diharapkan akan membawa
keadilan dan perdamaian. Dalam keyakinan Yeshiva, sebuah sekte yang didirikan
R. Shalom Dov Ber yang sangat khawatir terhadap masa depan agama Yahudi, mereka
akan menjadi prajurit dalam pasukan rabi yang akan berperang tanpa kenal ampun
dan kompromi untuk memastikan agama Yahudi sejati tetap bertahan, dan perjuangan
mereka akan meratakan jalan bagi kedatangan Messiah. Cukup beralasan jika kemudian keyakinan
Yeshiva ini dipahami dengan pandangan: Messiah hanya akan turun ketika terjadi
keberutalan dan peperangan (ingat mitos penciptaan Luria).
Jika ditinjau
dari latar belakang sejarah, konflik Israel-Palestina merupakan bagian dari
konflik Arab-Israel yang lebih luas sejak 1940-an. Agresi Meliter Israel
terakhir yang dilancarkan sejak 26 Desember 2008 pada prinsipnya merupakan
bagian yang tidak terpisah dari konflik Israel-Palestina sebelumnya. Untuk
lebih jelasnya, kronologi konflik Israel-Palestina dapat dipahami sebagaimana
penjelasan berikut:
Kronologi dan Anatomi Konflik Israel-Palestina
|
Tahun
|
Pristiwa
|
Deskripsi
|
|
1917
|
Deklarasi Balfour
|
2 November 1917
Inggris memenangkan Deklarasi Balfour yang dipandang pihak Yahudi dan Arab
sebagai janji untuk mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina.
|
|
1922
|
Mandat
Palestina
|
|
|
1936-1939
|
Revolusi Arab
|
Pimpinan Amin al
Husein yang menyebabkan tidak kurang 5000 warga Arab terbunuh
|
|
1947
|
Rencana pembagian
wilayah oleh PBB
|
29 November 1947,
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui untuk mengakhiri Mandat Britania untuk
Palestina dari tanggal 1 Agustus 1948 dengan pemecahan wilayah mandat
|
|
1948
|
Deklarasi Negara
Israel
|
Israel
diproklamirkan pada tanggal 14 Mei 1948, sehari kemudian langsung diserang
oleh tentara dari Libanon, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab lainnya.
Israel berhasil memenangkan peperangan dan merebut + 70% dari luas
total wilayah mandat PBB Britania Raya.
|
|
1949
|
Perseteujuan
gencatan senjata
|
3 April 1949, Israel
dan Arab sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan
50 persen lebih banyak dari yang diputuskan rencana pemisahan PBB
|
|
1956
|
Perang Suez
|
29 Oktober 1965,
Krisis Suez, sebuah serangan meliter terhadap Mesir dilakukan oleh Britania
Raya, Perancis dan Israel.
|
|
1964
|
Organisasi
Pembebasan Palestina (PLO) berdiri
|
Mei 1964, Organisasi
Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri, tujuannya untuk menghancurkan
Israel.
|
|
1967
|
Perang enam hari
|
Dikenal dengan
perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara Israel menghadapi
gabungan tiga negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah, yang mendapatkan
bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang
tersebut berlangsung selama 132 jam 30 menit.
|
|
Resolusi Khartoum
|
Sebuah pertemuan 8
pemimpin negara Arab pada tanggal 1 September 1967 karena terjadinya perang
enam hari. Resolusi ini berlanjut ke perang Yom Kippur tahun 1973.
|
|
|
1968
|
Palestina menuntut
pembekuan Israel
|
Perjanjian Nasional
Palestina dibuat, dan secara resmi Palestina menuntut pembekuan Israel.
|
|
1970
|
War of Attrition
|
Setelah perang enam
hari (5-10 Juni 1967), terjadi insiden serius di Terusan Suez. Tembakan
pertama dilepaskan 1 Juli 1967, ketika pasukan Mesir menyerang patroli
Israel, dan ini merupakan awal dari perang War of Attrition.
|
|
1973
|
Perang
Yom Kippur
|
Dikenal juga dengan
Perang Ramadhan pada tanggal 6-26 Oktober 1973 karena bertepatan dengan bulan
ramadhan. Perang ini merupakan perang antara pasukan Israel melawan koalisi
negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah, terjadi pada hari
raya Yom Kipur, hari raya yang paling besar dalam tradisi orang-orang Yahudi.
|
|
1978
|
Kesepakatan Camp
David
|
Ditandatangani pada
tanggal 17 September 1978 di Gedung Putih yang diselenggarakan untuk
perdamaian di Tmur Tengah. Jimmy Carter (Presiden Amerika Serikat) memimpin
perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir,
Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.
|
|
1982
|
Perang Libanon
|
Perang antara Israel
dan Libanon yang terjadi pada tanggal 6 Juni 1982 ketika angkatan bersenjata
Israel menyerang Libanon Selatan.
|
|
1990-1991
|
Perang Teluk
|
|
|
1993
|
Kesepakatan damai
antara Palestina dan Israel
|
13 September 1993,
Israel dan PLO sepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing.
Pertemuan Yaser Arafat dan Israel Yitzhak Rabin berhasil melahirkan
kesepakatan OSLO. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur
Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom
yang bisa memerintah di kedua wilayah. Arafat mengakui hak negara Israel
untuk eksis secara aman dan damai.
|
|
1996
|
Kerusuhan teromongan
al Aqsha
|
Israel sengaja
membuka terowongan Masjid al Aqsha untuk memikiat para turis dan membahayakan
fondasi mesjid bersejarah, pertempuran berlangsung beberapa hari.
|
|
1997
|
|
Israel menarik
pasukannya dari Hebron, Tepi Barat
|
|
1998
|
Perjanjian
Wye River
|
Oktober 1998,
Perjanjian Wye River yang berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan
politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo,
termasuk soal penjualan senjata ilegal.
|
|
2000
|
KTT Camp David
|
|
|
2002
|
|
Israel membangun tembok
pertahanan di tepi Barat diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina
|
|
2004
|
|
Mahkamah
Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum
internasional dan Israel harus merobohkannya
|
|
2005
|
Mahmud Abbas
terpilih menjadi Presiden
|
9 Januari 2005,
Mahmud Abbas dari al Fatah terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina
menggantikan Yaser Arafat yang wafat pada 11 November 2004
|
|
Juni 2005, pertemuan
Mahmud Abbas dan Ariel Sharon di Yerusalem. Mahmud Abbas mengulur Jadwal
Pemili karena mengkhawatirkan kemenangan diraih pihak Hammas
|
||
|
Agustus 2005, Israel
hengkang dari pemukiman Gaza dan empat wilayah pemukiman di Tepi Barat
|
||
|
2006
|
Hamas memenangkan
Pemilu
|
Januari 2006, Hammas
memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi fatah selama 40 tahun
|
|
2008
|
|
Januari-Juli,
ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas, Hamas
dituding tidak mampu mengendalikan kekerasan
|
|
November 2008, Hamas
batal ikut serta dalam pertemuan univikasi Palestina yang dilaksanakan di
Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.
|
||
|
26 Desember 2008,
Agresi Israel ke Jalur Gaza. Israel melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang
dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas.
|
(Disadur dari beberapa sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar