D.
Analisis Sosial: Konflik Politik-Teologis
Berdasarkan
uraian mengenai konflik Israel-Palestina sebagaimana dipaparkan di atas,
terlihat jelas bahwa, baik dimensi politik maupun dimensi teologis menjadi dua
hal yang sulit dipisahkan meskipun keduanya harus dapat dibedakan. Beberapa
catatan mengenai konflik Israel-Palestina bahkan memperlihatkan sebuah analisis
tentang pandangan konflik yang bermula dari persoalan politik ke teologis.
Fakta semacam ini dapat dibenarkan, mengingat dalam litaratur Islam sendiri
persoalan persoalan politik lebih dahulu muncul disusul dengan persoalan
teologi. Seperti disebutkan Harun Nasution, memang agak aneh jika dikatakan
bahwa persoalan yang pertama kali timbul dalam Islam adalah persoalan politik
yang kemudian meningkat menjadi persoalan teologi, akan tetapi sejarah
menunjukkan fakta tersebut. Selain itu, sulitnya memisahkan antara
konflik politik dengan konflik teologis tidak saja disebabkan oleh pergeseran
otomatis yang terjadi dari masalah politik ke teologi sebagaimana yang
seringkali muncul, akan tetapi konflik yang bermula dari persoalan teologi juga
tidak jarang memasuki ranah politik sebagai reaksinya untuk “bertarung” melawan
teologi yang lain. Dengan demikian, konflik politik maupun konflik teologis
menjadi dua hal yang saling membaur dan membutuhkan peranan yang satu terhadap
yang lainnya.
Dari berbagai
catatan mengenai latar belakang konflik Israel-Palestina sebagai bagian dari
konflik Arab-Israel yang lebih luas, tampak jelas bahwa konflik ini terlebih
dahulu dilatarbelakangi oleh masalah politik yang kemudian menjurus pada
persoalan teologis. Tidak sepenuhnya benar pandangan yang menganggap bahwa
konflik Israel-Palestina murni sebagai persoalan politik, sebab argumentasi
teologis – khususnya yang datang dari pihak Yahudi – juga turut mengambil
peranan dalam konflik ini. Pernyataan yang mungkin lebih tepat adalah, konflik
Palestina-Israel merupakan konflik yang bermula dari persoalan politik dan
sedikit melibatkan persoalan teologis. Namun demikian, sekecil apapun alasan
teologis yang melatar belakangi konflik Israel Palestina, tetap saja alasan
tersebut memiliki pengaruh yang besar pada kebijakan-kebijakan politik yang
diambil oleh negara Israel.
Persoalan
teologis yang penulis maksud adalah keyakinan bangsa Yahudi terhadap tanah yang
dijanjikan dan harus direbut sebagai bentuk intervensi Tuhan untuk
mengembalikan hak bangsa Yahudi yang telah tertindas. Konsep teologis tidak
dimaksudkan sebagai perang agama yang terjadi antara agama Yahudi dan Islam
yang menjadi pandangan “kolektif” hampir seluruh umat Islam, dan harus
ditegaskan bahwa pandangan semacam ini merupakan pandangan yang keliru. Sepanjang sejarahnya, konflik antara
Yahudi dan Islam atas nama agama belum pernah terjadi, sungguhpun konflik
Israel-Palestina telah berlangsung sejak enam puluh tahun silam. Sebaliknya,
konflik atas nama agama justru dialami Yahudi dengan umat Nasrani, ketika
Ferdinand dan Isabella menaklukan Granada pada tahun 1942 dan memerintahkan
pengusiran perkampungan Yahudi yang mengakibatkan sekitar 70.000 kaum Yahudi
berpindah ke agama Kristen, dan mereka yang terusir hidup di bawah perlindungan
Islam (Imperium Utsmaniyah).
Memahami
situasi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, analisis sosial tentu
menjadi alternatif yang mutlak diperlukan untuk mencari jalan keluar yang
tepat, karena konflik ini – secara luas – menyangkut masalah interaksi sosial
yang menyentuh berbagai aspek. Interaksi sosial tidak selamanya dapat dipahami
sebagai hubungan timbal balik yang bernilai kooperatif (cooperation), akan
tetapi persaingan (competition)
dan pertantangan maupun pertikaian (conflict)
merupakan salah satu bentuk interaksi sosial itu sendiri. Holsti bahkan menyebutkan, pada dasarnya
segala jenis hubungan (interaksi) menunjukkan adanya sifat konflik. Karenanya, solusi untuk konflik sosial
yang membingkai interaksi Israel-Palestina hanya dapat ditempuh melalui
analisis sosial mengingat langkah ini dapat mengantarkan pemahaman pada
faktor-faktor yang membentuk interaksi antar kelompok dan situasi yang
membentuk interaksi tersebut pada level ketegangan maupun hubungan yang
harmonis.
Setidaknya,
interaksi Israel-Palestina yang membentuk konflik teridentifikasi pada dua
masalah besar: politik dan teologis. Jika dilacak dari latarbelakang
sejarahnya, masalah politik pada prinsipnya menjadi pemicu utama yeng membentuk
situasi konflik Israel-Palestina, dan argumentasi teologis tentang berbagai hal
seperti: keyakinan tentang tanah yang dijanjikan; bangsa terpilih; maupun
“tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah”; menjadi kekuatan lain yang
membentuk konflik. Beberapa kalangan bahkan menganggap argumentasi teologis ini
merupakan politik mitos yang diciptakan oleh bangsa Yahudi sendiri untuk melegitimasi
setiap tindakannya dalam mendapatkan “tanah yang dijanjikan”, sehingga
pandangan ini semakin berpotensi membentuk anggapan bahwa konflik
Israel-Palestina murni sebagai konflik yang dipicu oleh permasalahan politik.
Berdasarkan pemaparan singkat di atas, tampak jelas bahwa kunci penyelesaian konflik Israel-Palestina sesungguhnya terletak pada kedua belah pihak yang bertikai. Penyelesaian konflik Israel Palestina akan sulit tercapai manakala pihak-pihak yang terlibat konflik tidak mentaati kesepakatan yang telah diambil. Pada aspek politik, langkah bijak yang tentunya dapat dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai persoalan dari kedua belah pihak untuk mendapatkan kerja sama dengan kepentingan yang sama dari masing-masing kebijakan politik keduanya. Sementara pada aspek teologis, dialog merupakan langkah yang tepat dalam menyelesaikan persoalan keduanya. Selain itu, aspek teologis agaknya tidak terlalu dominan mewarnai konflik, mengingat dalam sejarahnya hubungan teologis tiga agama besar pernah terjalin harmonis tanpa sentuhan “tangan-tangan politik”.
E.
Penutup
Berdasarkan pemaparan singkat di atas, tampak jelas bahwa kunci penyelesaian konflik Israel-Palestina sesungguhnya terletak pada kedua belah pihak yang bertikai. Penyelesaian konflik Israel Palestina akan sulit tercapai manakala pihak-pihak yang terlibat konflik tidak mentaati kesepakatan yang telah diambil. Pada aspek politik, langkah bijak yang tentunya dapat dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai persoalan dari kedua belah pihak untuk mendapatkan kerja sama dengan kepentingan yang sama dari masing-masing kebijakan politik keduanya. Sementara pada aspek teologis, dialog merupakan langkah yang tepat dalam menyelesaikan persoalan keduanya. Selain itu, aspek teologis agaknya tidak terlalu dominan mewarnai konflik, mengingat dalam sejarahnya hubungan teologis tiga agama besar pernah terjalin harmonis tanpa sentuhan “tangan-tangan politik”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar